Portal Berita Derah, Nasional dan Global

TwitterFacebookGoogle PlusInstagramRSS FeedEmail

Sabtu, 11 September 2021

Mengenang Liputan “24 Jam Bersama Ba’asyir” 19 Tahun Silam (3)

Sebuah arsip liputan "24 Jam Bersama Ba'asyir" yang dimuat Harian Surya edisi 22 Oktober 2002.

MESKI sudah 19 tahun berlalu, saya masih ingat saat itu Ba’asyir sangat terbuka kepada media.

Ketika saya menemuinya kali pertama, di sela-sela Kongres I Majelis Mujahidin Indonesia) di Yogyakarta, Agustus 2002 (saya lupa tanggalnya, Red) saya memperkenalkan diri sebagai jurnalis Surya yang ditugasi oleh atasan saya untuk pagi-siang-sore-malam meliput kegiatannya.

“Bila perlu, saya akan menginap di Ngruki,” kata saya kala itu. . 

Baasyir, tanpa menanyakan kartu pers saya, langsung menyatakan tidak keberatan terhadap rencana peliputan saya. 

Bahkan, katanya, “Silakan kalau mau ajak wartawan-wartawan lain.” 

Namun tak ada wartawan dari media lain yang ketika itu tertarik ikut meliput seperti saya, yang akan terus-menerus mengikuti Baasyir.

Belakangan, para jurnalis lain mulai datang ke Ponpes Al Mukmin Ngruki setelah pada 23 September 2002 Majalah TIME menulis berita berjudul Confessions of an Al Qaeda Terrorist di mana ditulis bahwa Abu Bakar Ba'asyir disebut-sebut sebagai perencana peledakan di Masjid Istiqlal Jakarta pada 1999. 

Majalah Tempo kala itu menulis, TIME menduga Ba'asyir sebagai bagian dari jaringan terorisme internasional yang beroperasi di Indonesia. TIME mengutip dari dokumen CIA, menuliskan bahwa pemimpin spiritual Jamaah Islamiyah Abu Bakar Ba'asyir "terlibat dalam berbagai plot." 

Pengakuan Umar Al-Faruq

Ini menurut pengakuan Umar Al-Faruq, seorang pemuda warga Yaman berusia 31 tahun yang ditangkap di Bogor pada Juni lalu dan dikirim ke pangkalan udara di Bagram, Afganistan, yang diduduki AS. 

Setelah beberapa bulan bungkam, akhirnya Al-Faruq mengeluarkan pengakuan kepada CIA yang mengguncang. 

Tak hanya mengaku sebagai operator Al-Qaeda di Asia Tenggara, dia mengaku memiliki hubungan dekat dengan Abu Bakar Ba'asyir. 

Menurut berbagai laporan intelijen yang dikombinasikan dengan investigasi majalah TIME, bahkan Ba'asyir adalah pemimpin spiritual kelompok Jamaah Islamiyah yang bercita-cita membentuk negara Islam di Asia Tenggara. 

Ba'asyir pulalah yang dituding menyuplai orang untuk mendukung gerakan Faruq. 

Ba'asyir disebut sebagai orang yang berada di belakang peledakan bom di Masjid Istiqlal tahun 1999. 

Dalam majalah edisi 23 September tersebut, Al-Faruq juga mengakui keterlibatannya sebagai otak rangkaian peledakan bom, 24 Desember 2000.  (BERSAMBUNG)

Share:

2 comments:

Arsip