Portal Berita Derah, Nasional dan Global

TwitterFacebookGoogle PlusInstagramRSS FeedEmail

Sabtu, 10 Juli 2021

Aktivis KAMI Jawa Tengah Tresno Subagyo : Aktivis Pergerakan Tidak Pernah Melemah

 Aktivis KAMI Jateng yang juga salah satu penanda tangan Deklarasi KAMI, Tresno Subagyo.

SOLOSKOY.COM, SOLO - Salah satu penanda tangan Deklarasi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), Tresno Subagyo, mengatakan bahwa dideklarasikannya KAMI pada 2020 lalu adalah bentuk kepedulian anak bangsa terhadap perikehidupan berbangsa dan bernegara yang semakin hari semakin tidak menentu. 

“Rakyat yang berharap wakil rakyat yang duduk di Dewan Perwakilan Rakyat baik di daerah maupun di pusat dapat menyuarakan aspirasinya, sudah tidak bisa berharap lagi,” katanya, dalam siaran pers yang dikirim ke redaksi SoloSkoy.com, Minggu (11/07/2021).

“Karena, mayoritas suara di Dewan Perwakilan Rakyat saat ini sudah berkoalisi dengan penguasa sehingga Dewan Perwakilan Rakyat hanya berfungsi sebagai legalitas kebijakan-kebijakan yang diambil oleh penguasa,” ujar Tresno Subagyo, yang aktif di Komisi Eksekutif KAMI Jawa Tengah (Jateng).

Adapun Tresno Subagyo bersama Mudrick SM Sangidu (saat ini Ketua Presidium KAMI Jateng sekaligus Koordinator KAMI Jateng-Daerah Istimewa Yogyakarta), dan Rus Utaryono (Aktivis Pergerakan Jawa Tengah) turut hadir dalam Deklarasi KAMI di Pondok Cabe Jakarta tahun 2020. 

Hadir dalam deklarasi tersebut, kala itu, para tokoh nasional yakni akademisi, ulama dan habaib, serta aktivis pergerakan lain.

Jati Diri KAMI

Menurut Tresno Subagyo,  jati diri KAMI menjadi roh dalam setiap gerakan moral dalam menyikapi dan mengkritisi penguasa apabila ada penyimpangan dalam kebijakan mengelola negara.

“Dalam perjalanan waktu tentu terjadi riak-riak dalam perjuangannya, tetapi ini tidak menyurutkan para aktivis KAMI dalam menyuarakan gerakan moral dalam rangka turut serta peduli terhadap perikehidupan berbangsa dan bernegara,” ucapnya.

Dia menegaskan, salah satu faktor yang tidak bisa menyurutkan aktivis dalam menyuarakan kebenaran adalah karena para aktivis tidak berjalan sendiri melainkan ada banyak tokoh nasional baik sipil maupun purnawirawan militer dan polisi, yang tetap dengan teguh mengkritisi penguasa. 

“Mereka adalah para pejuang bangsa yang patut kita teladani, punya semangat yang luar biasa berdiri bersama rakyat untuk memperbaiki nasib bangsa ini, beliau-beliau inilah yang menyemangati para aktivis dalam memperjuangkan hak-hak rakyat,” ujar Tresno Subagyo.

“Ada Mayor Jenderal (Purn) Kevlan Zen, Mayor Jenderal (Purn) Sunarko, Jenderal TNI Agustadi Sasongko Purnomo, S.I.P., Kolonel (Purn) Sugeng Waras, Kapten (Purn) Ruslan Buton, dan masih banyak lagi para purnawirawan yang aktif menyuarakan kebenaran karena cinta mereka kepada Negara dan Bangsa,” katanya melanjutkan.

Tak Ada Alasan untuk Mundur

Tresno Subagyo juga menegaskan, tidak ada alasan bagi aktivis dalam menyuarakan kebenaran untuk mundur selangkah melainkan senantiasa teguh menyuarakan kebenaran. 

“Seberapapun perjuangan kita, sangat diharapkan demi anak cucu kita. Jangan pernah kita tinggalkan negeri ini kepada anak cucu kita dalam keadaan negeri yang terjajah, negeri yang jauh dari cita-cita para pendiri bangsa,” katanya. 

Apalagi, ujar Tresno Subagyo, beberapa Deklarator KAMI yang lantang menyuarakan kebenaran dalam mengkritisi penguasa, saat ini masih menjalani tahanan karena menyuarakan kebenaran. 

Mereka, antara lain, Syahganda Nainggolan, Anton Permana, Jumhur Hidayat, dan Egi Sujana.  

“Mereka tidak pernah meminta dikasihani atas penahanan mereka karena mereka telah ditempa oleh keadaan dalam menyuarakan kebenaran. Juga, seorang Tokoh Nasional Lieus Sungkharisma pernah menjalani hukuman karena statement-statementnya dalam menyuarakan kebenaran,” ujarnya.

Tresno Subagyo menyebutkan, satu hal yang tidak akan pernah dia lupakan adalah saat tokoh KAMI, Jendral (Purn) Gatot Nurmantyo, mengutip pepatah Melayu tentang ‘Sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang” ketika berorasi pada acara peresmian Presidium KAMI di Magelang, Jateng, pada 2020 tepatnya pada Jumat (18/9/2020).

“Pepatah di atas tidak main-main. Salah satu artinya adalah bahwa bagi Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo, KAMI 'tidak punya persneling mundur'. Secara kebetulan pula, Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo mengucapkannya di 'Kota Tentara', Magelang,” ujar Tresno Subagyo.  (jun)


Share:

1 comments: